Tuesday, April 23, 2013

Makalah Pancasila



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang lahir karena kemajemukan dan perbedaan yang dipersatukan oleh kesadaran kolektif untuk hidup sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Perjuangan panjang bangsa untuk bersatu, diwarnai oleh kepahitan dan perjuangan fisik yang panjang dari generasi pendahulu bangsa untuk merdeka. Bukan merupakan hal yang mudah bagi para pendiri negara (founding fathers) menyepakati Pancasila, yang merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur bangsa, dan menetapkannya sebagai dasar negara. Namun dengan niat luhur dan mengesampingkan kepentingan kelompok, agama maupun golongan, pada tanggal 18 agustus 1945, dalam sidang pertamanya, PPKI telah menghasilkan kesepakatan untuk mengesahkan Pancasila sebagai dasar negara dan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 sebagai konstitusi negara.
            Sebagai Dasar Negara, Pancasila merupakan ideologi, pandangan dan falsafah hidup yang harus dipedomani bangsa indonesia dalam proses penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai luhur yang digali dari budaya bangsa dan memiliki nilai dasar yang diakui secara universal dan tidak akan berubah oleh perjalanan waktu.
            Seiring dengan perjalanan waktu dan sejarah bangsa, kini apa yang telah diperjuangkan para pendiri dan pendahulu bangsa tengah menghadapi batu ujian keberlangsungannya. Globalisasi telah mempengaruhi pola pikir, pola sikap dan pola tindak generasi penerus bangsa dalam menyikapi berbagai permasalahan kebangsaan.
            Globalisasi mempunyai dua sisi yang bertolak belakang. Satu sisi membawa dampak positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Sedangkan sisi yang lain membawa dampak negatif. Hal ini tentu wajar, karena segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang sempurna. Pasti ada baik dan buruk dalam setiap halnya.
            Sebagai bangsa yang menganut Pancasila sebagai pandangan hidup, bangsa Indonesia tentu harus lebih selektif dalam menentukan budaya-budaya apa saja yang baik atau buruk sebagai dampak dari globalisasi. Pancasila, terutama sila Ketuhanan Yang Maha Esa, berperan penting sebagai penyaring dalam menyeleksi baik buruknya budaya yang dibawa arus globalisasi.Maka dari itu, dalam makalah ini akan membahas tentang peranan nilai ketuhanan yang merupakan salah satu unsur dalam pancasila dalam menghadapi dampak negative globalisasi.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan nilai ketuhanan ?
2.      Apakah yang dimaksud dengan globalisasi itu ?
3.      Bagaimanakah peran nilai ketuhanan dalam menghadapi dampak negative globalisasi ?

C.     Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah
1.      Untuk mengetahui apakah yang dimaksud dari nilai ketuhanan.
2.      Untuk mengetahui apakah yang dimaksud dari globalisasi.
3.      Untuk mengetahui peran nilai ketuhanan dalam mengadapi dampak negative globalisasi.








BAB II
PEMBAHASAN

1.      Nilai Ketuhanan
            Nilai ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung arti bahwa adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pancipta alam semesta. Dengan nilai ini menyatakan bangsa indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis. Nilai ketuhanan juga memilik arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama, menghormati kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antarumat beragama.
            Sila pertama dari dasar negara Indonesia yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa ini merupakan sila yang paling mendasar bagi sila-sila lainnya. Masalah ketuhanan dan kepercayaan seseorang tidak dapat diganggu gugat karena merupakan hal yang paling hakiki yang dimiliki manusia. Ketuhanan dan kepercayaan adalah sesuatu yang sangat sakral dan memiliki makna yang sangat mendalam.
            Setiap manusia pasti memiliki kepercayaannya masing-masing, yang jika dia memiliki iman atau keyakinan yang kuat atas apa yang dipercayainya maka akan tetap ia pertahankan apa pun yang terjadi. Sehingga, tidak pantas jika kita menganggu atau mengusik kepercayaan orang lain. Kita wajib menghormati dan menghargai kepercayaan orang lain, sehingga orang lain pun akan mnghormati dan menghargai kepercayaan yang yang kita anut.
            Dengan adanya sikap saling menghormati dan menghargai kepercayaan masing-masing tersebut, maka akan tercipta kedamaian dan ketentraman. Dengan saling menghormati tidak akan terjadi perpecahan yang hanya akan membawa keburukan bagi semua. Sikap saling menghormati dan menghargai sesama inilah yang seharusnya kita kembangkan agar tidak terjadi perpecahan dan kerusuhan yang berakibat pada kondisi keamanan negara.
            Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi Pancasila sebagai pandangan hidup, sudah seharusnya kita menghayati dengan sungguh-sungguh dan mengamalkan sila pertama Pancasila tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengamalkannya, kita akan menyadari bahwa setiap manusia berhak memiliki kepercayaannya masing-masing dan kita tidak boleh memaksakan keyakinan kita pada orang lain.

2.      Globalisasi
            Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.         Globalisasi sebagai suatu proses bukanlah suatu fenomena baru karena proses globalisasi sebenarnya telah ada sejak berabad-abad lamanya. Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 arus globalisasi semakin berkembang pesat di berbagai negara ketika mulai ditemukan teknologi komunikasi, informasi, dan transportasi. Loncatan teknologi yang semakin canggih pada pertengahan abad ke-20 yaitu internet dan sekarang ini telah menjamur telepon genggam (handphone) dengan segala fasilitasnya.
            Bagi Indonesia, proses globalisasi telah begitu terasa sekali sejak awal dilaksanakan pembangunan. Dengan kembalinya tenaga ahli Indonesia yang menjalankan studi di luar negeri dan datangnya tenaga ahli (konsultan) dari negara asing, proses globalisasi yang berupa pemikiran atau sistem nilai kehidupan mulai diadopsi dan dilaksanakan sesuai dengan kondisi di Indonesia. Globalisasi secara fisik ditandai dengan perkembangan kota-kota yang menjadi bagian dari jaringan kota dunia. Hal ini dapat dilihat dari infrastruktur telekomunikasi, jaringan transportasi, perusahaan-perusahaan berskala internasional serta cabang-cabangnya.
o    Pengaruh terhadap Globalisasi
§  Pengaruh positif :
      1. Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis. Karena pemerintahan adalah bagian dari suatu negara, jika pemerintahan djalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme terhadap negara menjadi meningkat.
      2. Globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.
      3. Globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.
      • Pengaruh negatif:
      1. Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang.
      2. Globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
      3. Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.
      4. Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa.

2.      Peranan Nilai Ketuhanan dalam Menghadapi Dampak Globalisasi
            Globalisasi membuat budaya antar bangsa saling mempengaruhi. Karenanya keberadaan nilai-nilai keimanan dan moralitas menjadi sangat penting. Sebab nilai-nilai keimanan dan moralitas itulah yang mampu mengatasi dampak negatif dari globalisasi.
            Adanya dampak negatif dari globalisasi menuntut kita untuk lebih selektif dalam memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Sehingga, perlu adanya penyaring agar semua informasi yang kita terima sebagai dampak dari globalisasi dapat dipilih mana yang sesuai dengan jati diri bangsa dan mana yang tidak. Dalam hal ini, tentu kita dapat menggunakan Pancasila yang merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia.
            Dengan berpedoman pada Pancasila, kita tidak perlu kehilangan jati diri bangsa karena arus globalisasi yang semakin hari semakin kuat menerjang. Khususnya jika kita berpegang teguh pada sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila pertama Pancasila tersebut berperan sebagai filter atau penyaring dalam menyeleksi budaya-budaya luar yang masuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Dengan tetap berpegang teguh pada keyakinan dan kepercayaan yang kita anut, kita tidak akan kehilangan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia akibat pengaruh globalisasi.
            Oleh karena itu, sebagai bangsa Indonesia yang berbudaya, kita harus menjunjung tinggi sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai pedoman kita dalam menghadapi dampak globalisasi. Keyakinan kita pada Tuhan Yang Maha Esa akan membuat kita lebih selektif dalam memilih mana yang baik dan buruk bagi kita, karena setiap agama pasti mengajarkan kebaikan pada penganutnya. Untuk itu, kita perlu menebalkan iman kita pada Tuhan agar kita tidak terpengaruh oleh hal-hal baru yang bersifat merusak dari berbagai belahan dunia.
           




BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
        Sila Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sila yang paling mendasar bagi sila-sila lainnya dalam Pancasila. Ketuhanan yang berkaitan dengan kepercayaan merupakan hal yang paling hakiki dan tidak bisa diganggu gugat. Sebagai makhluk Tuhan, kita wajib menghormati dan menghargai kepercayaan orang lain agar tercipta kedamaian antar umat beragama. 
        Globalisasi merupakan suatu gejala wajar yang pasti akan dialami oleh setiap bangsa di dunia, baik pada masyarakat yang maju, masyarakat berkembang, masyarakat transisi, maupun masyarakat yang masih rendah taraf hidupnya. Dalam era global, suatu  masyarakat/negara tidak mungkin dapat mengisolasi diri terhadap proses globalisasi. Jika suatu masyarakat/negara mengisolasi diri dari globalisasi, mereka dapat dipastikan akan terlindas oleh jaman serta terpuruk pada era keterbelakangan dan kebodohan.
        Dengan berpedoman pada Pancasila, kita tidak perlu kehilangan jati diri bangsa karena arus globalisasi yang semakin hari semakin kuat menerjang. Khususnya jika kita berpegang teguh pada sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.
       
3.      Saran
Dalam menghadapi dampak negative globalisasi diperlukan nilai-nilai keimanan dan moralitas dan sikap selektif dalam memilih mana yang baik dan buruk bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, diharapkan dampak negatif yang timbul dapat diminimalisasi.



                       

DAFTAR  PUSAKA

1.      Megaisme. 2010. Sikap Kritis Terhadap Globalisasi,  http://megaisme.wordpress.com/2010/01/03/sikap-kritis-terhadap-dampak-globalisasi/
2.      Fearlessmey. 2012. Peran Sila Ketuhanan dalam Menghadapi Dampak Globalisasi, http://fearlessmey.wordpress.com/2012/06/17/peran-sila-ketuhanan-dalam-menghadapi-dampak-globalisasi/
3.      Sro web. 2012. Makalah Globalisasi, http://sro.web.id/makalah-globalisasi.html
4.      Soepandji , Budi Susilo. 2012. Revitalisasi Nilai Luhur Pancasila Dalam Kehidupan Nasional, http://budisusilosoepandji.wordpress.com/2012/06/07/revitalisasi-nilai-luhur-pancasila-dalam-kehidupan-nasional/
6.      Kompasiana. 2012. Nilai Nilai dalam Pancasila, http://sejarah.kompasiana.com/2012/10/07/nilai-nilai-dalam-pancasila/
7.      Pramono, Teguh. 2012. Dampak Globalisasi terhadap Masyarakyat Indonesia, http://tottoteguh.blogspot.com/2012/03/dampak-globalisasi-terhadap-masyarakat.html


0 comments:

Post a Comment